“Biasa aja, tu. Kalimatnya gak terlalu istimewa. Paling maknanya juga kayak gitu-gitu aja…” Itulah kalimat yang terpesit dibenakmu ketika ngebaca kalimat ini. Gak cuma kamu, kok. Aku juga. Aku bukan orang yang puitis, pinter ngebikin kata-kata, wisdom wise atau yang laen-laen. Aku kadang-kadang seneng ngedenger orang bijak lagi ngomong. Yaaa, itu tadi, karena gak mbakat jadi poemer… Ngedenger kata-kata atau nasihat bijak juga tergantung orangnya. Kalo orangnya punya kharisma tersendiri, sih, umumnya aku tertarik negedengerin. Tapi, kalo orangnya malesin, mbikin ngantuk atau semacemnya…, wah itu yang mbikin aku gak tertarik.
Kembali ke masalah awal. Ini tentang “hear what our heart says” . Bener banget kalo kamu bilang kalimat ini gak begitu menarik, udah biasa, sering denger atau apalah. Kalmat ini Cuma kalimat “mendengar apa yang dikatakan oldeh hati kita” dalam bahasa Inggris. Biar lebih keren atau berkesan puitis aja dibahasain Inggris.
Memang nggak ada yang spesial. Tapi coba deh di baca berulang-ulang. “Kira-kira, dalam hidupku, aku ini termasuk orang yang mengikuti kata hati, ato malah jarang ngedenger kata hati???” Dalam buku yang membahsa tentang psikologi, pasti ada sejuta cara untuk tahu, kamu tipikal orang yang biasa menikuti kata hati atau enggak. Dari kuis nyampe test lisan. Cara-cara itu, menurut beberapa temenku emang canggih punya. Jujur, aku juga pernah ikutan kuis-kuis sederhana kayak gitu.
Buwatku pribadi, kalimat ini awalnya terdengar biasa banget. Asli. Tapi… sekarang, kalimat ini bener-bener ampuh buwatku. Kalimat keramat, kalimat yang dalem buwat aku. Kenapa???
Dilogika aja. Contohnya, kita pengen banget lulus SMA, contoh aja, nih. Pasti ketika kita berdoa dalam hati sesudah sholat, kita pasti minta ke Allah biar cepet lulus. Ketika ada orang lain mendo’akan kita biar cepet lulus pasti baik secara lisan atau di dalam hati, bilang Amin… Persetujuan hati merupakan bentuk betapa sejalannya kata hati kita ini, dengan segala macam bentuk harapan,keinginan ataupun do’a - do’a yang selalu kita panjatkan.
Dengan begitu, saya mulai berpikir, apa iya, kita tetap bisa berjalan lurus di titian tujuan kita, kalo kata hati saja masih sering terabaikan??? Apa iya, masih ada alasan buwat kita ngingkari kata hati kita masing-masing??? Sejahat-jahatnya orang, aku yakin orang itu masih punya hati barang cuma sekecil kerikil.
Suka ngikuti Mario Teguh – Golden Ways??? Itu, lho yang acaranya salah satu stasiun TV swasta??? Sejujur-jujurnya aku gak terlalu suka. Tapi, Ayah sama Ibuku selalu udah ready di depan TV minimal 5-10 menit sebelum acara Pak Mario dimulai. Jadi ya, sedikit banyak aku ikutan ngedengerin. Pak Mario di acaranya hari Minggu kemarin, tanggal 30 November 2008, kalo gak salah denger juga, nih, kurang lebih bunyinya “dengarkan apa kata hati kita, lalu amati apa yang terjadi” Nah… menurutku, itu passssss banget…
Kesimpulannya… Aku setuju banget sama pendapat/kesimpulan pak Mario. Menurut pengalaman pribadi aku juga kayak gitu. Terutama ketika awal keputusanku, untuk kuliah di bidang yang menurut kata hatiku bonafit (lho kok???? jadi narsis. heheheheJ. it just intermezo). Jadi kalo boleh aku tambahin kalimat di atas itu, menurutku jadi, ini juga hanya menurutku… “dengarkan apa kata hati kita, lalu amati apa yang terjadi, pasti sesuai dengan harapan dan keinginanmu…”
Finally, I just want to say thanks for your attention. Tapi… dari penulisan artikel di atas, aku minta maaf, maaf banget kalau ada salah kata, kalimat atau penyusunan bahasa (pasti banyak, yaaaL). So, enjoy with what your heart says… See you. Don’t be bored with myblog. Thank you.